Pernikahan Menuju Kebebasan

December 19, 2007

Kurang dari 3 minggu menjelang hari H-ku, sebuah film disuguhkan kepadaku di malam minggu kemarin. Sebatas Aku Mampu, judulnya. Berkisah tentang pasangan muda, Ayub dan Ros, yang membina rumah tangga dengan keunikan masing-masing. Ros adalah seorang sekretaris pada sebuah perusahaan baru, pekerja keras, rajin, dan pintar, membuatnya dapat memperoleh peningkatan karir dengan cukup cepat. Ayub, pegawai negeri dengan keinginan dan pola pikir yang amat sederhana, menjalani hari-harinya begitu damai dan santai dengan memancing bersama sahabatnya dan mengurus ayam sepulang ke rumah.

Ketidakpahaman akan keunikan masing-masing belum terasa ketika pada awal cerita mereka masih mampu mengkompromikan banyak hal. Ros tidak pernah menyukai ayam-ayam peliharaan Ayub dan mengusulkan untuk memelihara anjing saja. “Anjing tidak bisa bertelor,” jawab Ayub ketika itu. Namun berjalan waktu, karier Ros yang semakin menanjak rupanya menggelitik Ayub yang stagnan. “Kita tidak pernah lagi ngobrol Ros,” ujar Ayub satu kali. “Abang yang terlalu sibuk dengan ayam-ayam Abang,” balas Ros. Bagaimanapun, Ros tetap membutuhkan kegemaran Ayub memancing, sebab suami bosnya ternyata juga amat gemar memancing. Kesederhanaan dan filosofi memancing Ayub telah memikat hati suami sang bos.

Konflik muncul ketika keunikan masing-masing tidak dihargai dan dimaknai sebagai bagian hidup yang sewajarnya. Ros merasa suaminya tidak mau berkembang, Ayub merasa istrinya terlalu lugu sehingga mudah dimanfaatkan. Sebagaimana kisah-kisah happy ending, Ros akhirnya mengetahui bahwa sang bos rupanya ingin menjodohkan ia dengan anak lelakinya yang beberapa tahun belakangan kehilangan istrinya yang meninggal. Ayub sudah pernah mengingatkan hal ini, “Menurutmu tidak aneh, ada seorang sekretaris tiba-tiba diangkat menjadi manajer?” Ros yang merasa direndahkan kontan meledak, “Jadi menurut Abang aku tidak pantas mendapatkan jabatan itu?” Pertengkaran pun berlanjut namun berakhir dengan bahagia.

Romantis bagi sebagian orang, buatku kisah dalam film itu amat mencerahkan. Beberapa jam sebelumnya, terlintas dalam pikiranku bahwa pernikahan berarti kebebasan memilih. Ayub dan Ros yang begitu berbeda memilih untuk bersatu karena cinta yang mereka rasakan. Betapa tidak? Baik agama maupun budaya secara umum mengajarkan batasan-batasan di antara sesama saudara kandung sekalipun. Bahkan ayah dan ibu juga tetap harus memiliki ‘jarak’ dengan anaknya dalam hal-hal tertentu yang merupakan privasi mereka.

Bagaimana dengan pernikahan? Yang terjadi justru sebaliknya. Sepasang suami istri bebas berbagi apapun tanpa ada batasan sama sekali. Pada orang asing itulah seseorang membuka rahasianya yang paling dalam dan mengukir masa depan bersama. Sungguh sebuah kebebasan yang luar biasa. Manusia adalah khalifah, sang penentu arah perkembangan dunia, karenanya ia tidak boleh dibelenggu semata-mata oleh hubungan sedarah. Kesempurnaan seseorang akan muncul ketika ia menyempurnakan kehidupannya dengan kehadiran seorang pasangan hidup, karena itulah ia harus memilih sendiri sang pasangan sejati. Visi masa depan yang besar tentu harus dicapai dengan regenerasi yang baik karena terbatasnya usia, maka dari itulah seseorang diberi kekuasaan penuh untuk mencari bibit terbaik generasi penerus.

Hmm…jika aku sempat membayangkan pernikahan adalah kesenangan berdua, rupanya aku salah. Sebuah pernikahan adalah penopang kehidupan. Memilih pasangan, memilih arah rumah tangga, memilih apa yang akan dimakan, memilih akan menyekolahkan anak dimana, memilih mencari sumber penghidupan apa, adalah rentetan kebebasan berikutnya. Selayaknya sebuah kebebasan, hasil akhir tentu harus dipertanggung jawabkan. Inilah yang membuat hatiku bergetar.

Ketika kusebut…

July 12, 2007

Ketika kusebut “Subhanallah…”, kotor dan hina terasa diriku. Namun sesuatu yang aneh terjadi ketika kuucap kata itu untuk yang ke-15 kalinya. Cahaya yang terang, bersih, dan lembut memancar entah dari mana lalu menyinari diriku. Bersihlah aku tepat pada ucapan ke 33.

Ketika kusebut ”Alhamdulillah…”, sungguh kufur terasa diriku. Namun diingatkanlah aku pada: ”Syukur adalah perbuatan”, dan kukuatkan niat untuk berpikir, merasa, dan melangkah untuk kebaikan.

Ketika kusebut ”Allahu Akbar…”, teramat kecil terasa diriku. Namun seketika ditampakkanlah alam raya yang megah beserta isinya di hadapanku. Aku pun takjub tak sanggup berkata hingga kusadari betapa benar ayat-Nya: Dan tidak ada sesuatu pun diciptakan dengan sia-sia. Tubuhku bagai terangkat menuju kebesaran-Nya. Jadilah aku semakin yakin akan maksud-Nya menghadirkanku di sini: aku adalah khalifah dari kebesaran-Nya.

Kehidupan dan Kehangatan

June 21, 2007

Perjalanan pulang ke rumah yang sama sekali tidak lepas dari kemacetan membuat aku dan istriku mengobrol tanpa henti sepanjang jalan. Setelah beberapa lama ngalur ngidul, istriku yang kedinginan mengarahkan jendela AC ke arah lain sambil membelai perutnya sembari berkata kepada calon momongan kami, “Aduh dingin Dek. Kamu enak di dalam aja deh, anget. Di luar tuh macem-macem, ada dingin, anget, panas juga.”

Mendengar itu, kepalaku serasa tertetesi air hangat yang kemudian mengalir ke sekujur tubuhku. Demi merasakannya, sebuah pertanyaan muncul dalam benakku, “Mengapa Tuhan menciptakan rahim yang hangat untuk menyiapkan bakal manusia? Mengapa bukan dingin, panas, atau biasa saja gitu?”

Well, aku memang jauh dari seorang ahli masalah kedokteran seperti ini, karenanya aku akan memandangnya dengan pemahaman sederhana yang kupunya saat ini.

Hmm…hangat. Tidak seperti kata yang lain, kata yang satu ini seolah memiliki efek yang magis bagi kehidupan. Mencermati kalimat-kalimat berikut ini, aku pun mulai merasa tercerahkan:

“Suasananya hangat ya. Aku suka deh kerja di sana.”

“Wah, sambutannya hangat sekali. Dia memang orang yang baik ya.”

“Eh, flu ya. Ayo, minum yang hangat-hangat.”

‘Hangat’ memang seolah memiliki hubungan erat dengan kehidupan. Pada kalimat pertama, suasana yang ‘hangat’ seakan-akan mampu menumbuhkan koneksi antara seorang new comer dengan tempat kerja yang baru pertama kali diinjaknya. Mirip dengannya adalah kalimat kedua, yang lebih jauh dari menimbulkan koneksi, tapi juga memunculkan efek emosional yang impresif dan menurutku akan awet dalam jangka panjang. Begitu pula dengan kalimat yang ketiga. Meskipun dengan konteks yang sedikit berbeda, kata ‘hangat’ dalam kasus ini juga menjadi sumber kenyamanan dan kesembuhan karena kemampuannya menetralisasi efek dingin yang terasa berlebihan ketika flu.

Hmm…hangat. Ia istimewa karena berada di tengah. Ketika sesuatu terasa ‘panas’, ia harus didinginkan agar tidak meledak-ledak. Tapi ‘dingin’ yang terlalu dingin juga akan menghilangkan ‘nyawa’ dan karenanya kehidupan pula. ‘Panas’ memunculkan kecenderungan dominasi, sedangkan ‘dingin’ akan membiarkan diri terkulai pasrah tak berdaya dalam kesendirian.

Wah, kok berakhir pada keseimbangan lagi yah? Kehidupan muncul karena kehangatan. Bagaimanapun ‘panas’ dan ‘dingin’ dibutuhkan, kehangatan lah yang membuat keberlangsungan hidup tetap terjaga.

Mau menjadi seorang yang penuh kehangatan?

*Maap, saya lagi mikir aneh2 nih. Jadi kalau kurang enak untuk dinikmati, mohon dimaklumi ya. he..he..

Banjir di kotaku belum lagi usai. Jalanan yang sempat terendam memang sudah bisa kulalui lagi, namun tayangan terakhir menyampaikan masih ada air yang ‘berontak’ dan kembali menggenang di beberapa tempat. Pantas ataupun tidak, dalam hati kecil aku bersyukur rumahku sama sekali tidak tergenang air. Kukatakan pantas atau tidak, sebab sisi lain diriku mengatakan aku seharusnya tidak bersenang hati, sebab banyak orang masih menangisi musibah yang menimpa mereka.

Terlintas di benakku, banjir adalah fenomena yang unik. Ia bisa dibilang adalah bencana sebab akibat yang dimunculkan begitu luar biasa–meskipun kita sudah bisa perkirakan kepastian datangnya. Namun hal yang menarik bagiku, lagi-lagi alam mengajarkan bahwa keseimbangan adalah prinsip yang ia pegang teguh. Ya, di kala beberapa orang harus kehilangan yang mereka miliki, seorang penarik gerobak bisa mendapatkan penghasilan ratusan ribu dalam sehari demi menolong orang-orang yang terpaksa keluar rumah (atau terjebak tidak bisa pulang?) di hari-hari itu. Kita boleh terenyuh melihat para pengungsi yang makan dan berpakaian seadanya, tapi kita tampaknya juga harus tersenyum gembira jika mengamati para montir yang kebanjiran order perbaikan kendaraan yang terendam air. Begitu pula kita harus prihatin dengan perusahaan asuransi (tempatku bekerja salah satunya) yang pusing tujuh keliling menangani klaim banjir, sekaligus kita harus turut bahagia membayangkan peningkatan premi yang mungkin didapat ketika banyak orang (dan korban) sudah semakin sadar pentingnya asuransi.

Aku pun teringat ucapan seorang rekan ketika bertugas sebagai tim Crisis Center untuk membantu rekan-rekan yang rumahnya kebanjiran, “Alam itu luar biasa ya. Dia tidak terima dengan perlakuan kita yang membuang sampah sembarangan. Sekarang dia kembalikan tuh sampah semua sama kita.” Bang! Rasa malu pun muncul dalam hatiku. Barangkali tumpukan sampah itu juga adalah kontribusiku selama ini.

Kalau sudah begini, aku pun masih bingung apakah harus bersyukur atau bersedih dengan banjir yang (lagi-lagi) menimpa kotaku ini. Kupikir-pikir, mungkin tak seharusnya aku memilih. Bersedih sembari mensyukuri boleh juga kan? Toh bersyukur sejatinya adalah belajar, merenung, dan bertindak untuk memaksimalkan potensi dan perbaikan.

Saatnya berbenah.

Learn to be Trusted

January 31, 2007

Seorang guru baru saja kutemukan. Stephen M. R. Covey namanya. Pernah dengar? Tidak heran, sebab namanya mirip dengan penulis buku laris The 7 Habits, Stephen R. Covey. Bagi yang pernah membaca buku legendaris itu tentu tidak asing dengan kisah green and clean yang dikisahkan Mbah Covey untuk menjelaskan tentang strategi melakukan empowerment yang efektif. Nah, si Stephen M. R. Covey inilah anak yang menjadi tokoh dalam kisah tersebut. Dalam buku The Speed of Trust yang baru saja kubaca itu, Stephen Jr. ini menjelaskan makna kisah green and clean dari sudut pandangnya sebagai anak kecil. Ia tidak paham apa itu delegasi tugas, yang ia tahu adalah bahwa ia diberi kepercayaan oleh ayahnya. Perasaan dipercaya inilah yang mengantarnya menjadi pribadi yang dapat dipercaya sepanjang hidupnya.

Satu pelajaran dalam buku itu yang menggelitik pikiranku adalah kisahnya tentang beberapa bulan menangani sebuah proyek yang menantang sehingga membuatnya harus tidur sampai pukul 2-3 dini hari. Karena tetap ingin bangun pagi untuk melakukan olahraga, ia mengeset alarm lebih awal dari jam ia seharusnya bangun untuk kembali beraktivitas. Apa yang terjadi? ia hanya bangun untuk kemudian kembali mematikan alarm tersebut dan kembali tidur. Pengalaman ini memberinya pelajaran penting: jangan sekali-kali memungkiri apa yang kamu tahu tidak dapat kamu laksanakan. Ia tahu betul bahwa kondisinya memang tidak memungkinkan untuk bangun dan berolahraga, namun ia bersikap seolah-olah ia pasti dapat melakukan hal ini.

Aku pun teringat pernah ada masanya aku juga mengeset jam tangan dan jam dinding di rumahku lebih awal dari waktu yang sebenarnya, terpengaruh oleh saran beberapa orang agar aku tidak terlambat untuk beraktivitas. Yang terjadi kemudian persis sama dengan yang dialami oleh Stephen, tidak pernah sekalipun aku berangkat tepat pada waktunya (baca: sesuai waktu yang tertera pada jam tanganku). Aku malah makin rajin datang terlambat karena salah memperhitungkan berapa menit jamku kupercepat.

Namun demikian, efek dari perilaku model begini ternyata tidak hanya sampai disini. Stephen memberikan 2 pencerahan mengenai hal ini. Pertama, diri kita sejatinya selalu berintensi untuk jujur terhadap segala hal. Secerdik apapun otak kita memprogram perilaku yang tampak, pasti akan ada titik yang memungkinkan diri kita yang asli untuk menunjukkan kesejatiannya. Kalaupun dipaksakan, maka akan terjadi ketidaksesuaian yang parah dan berujung pada jiwa yang sakit. Kedua, ketidaksesuaian yang tercipta dari perilaku demikian akan menurunkan tingkat kepercayaan kita terhadap diri kita sendiri. Perlahan-lahan, keberanian kita untuk melakukan sesuatu akan menurun drastis. Keyakinan diri berkurang, begitu pula keyakinan kita terhadap orang lain. Nah, jangan tanya keyakinan orang lain terhadap kita kalau sudah begini.

Bagi Stephen, menjadi pemimpin (bagi diri kita sendiri sekalipun) adalah masalah membangun kepercayaan. Dan itu berarti mengambil tindakan sekarang untuk memenuhi janji kita terhadap diri kita sendiri.

Hmm…mau membetulkan jam kita sekarang?

Setengah dan Setengah

January 30, 2007

Tiga minggu menjalani ‘hidup baru’-ku setiap detik serasa menghadirkan beragam pencerahan dalam hati. Beberapa kebiasaan tentu berubah, mulai dari bangun pagi hingga tidur lagi, selimut penutup keaslian masing-masing diri terbuka tanpa mampu ditutup lagi. Seperti pernah kuutarakan, menikah memang adalah anugerah kebebasan dari Tuhan yang luar biasa, tempat 2 orang saling menumpahkan segenap kemurniannya. Hmm…tidak selalu demikian memang. Pernikahan yang disebabkan oleh perjodohan yang dipaksakan atau nafsu tanpa pertimbangan logika dan didasari cinta yang tulus adalah contoh yang amat mungkin menelurkan hasil sebaliknya.

Sedikit demi sedikit, beberapa bagian dari diriku terasa bertumbuh. Di tengah kekuranganku dalam hal pengambilan keputusan, aku belajar untuk lebih decisive, karena akulah kepala keluarganya sekarang. Kewajiban untuk shalat berjamaah dan menjadi imam adalah pelatihan yang luar biasa untuk mengasah jiwa kepemimpinanku. Tidak lagi aku bisa mempelajari suatu ilmu tanpa membaginya kepada istriku, sebab demikianlah layaknya seorang pemimpin mendidik pengikutnya. Tidak lagi aku bisa menggunakan penghasilan semauku, karena ini bukanlah milikku seorang lagi sekarang. Belum lagi keseimbangan yang harus kujaga dengan ibuku yang sedikit banyak pastilah memiliki rasa cemburu dengan kebersamaanku bersama orang lain.

Sejenak kemudian, aku pun teringat pada ajaran Rasulullah: menikah berarti meraih setengah agama. Tidak pernah aku mendapat pencerahan akan ajaran ini sebelumnya. Ya. Inilah sisi lain dari mata uang menikah adalah meraih kebebasan. Tidak saja kita bebas menentukan apapun jalan yang akan kita tempuh dalam mengarungi bahtera pernikahan itu, melainkan juga hasil akhir sudah mulai terlihat: gunakan kebebasan dengan semestinya, dan setengah agama sudah di tanganmu. Jadilah pemimpin, bimbinglah pengikutmu, curahkanlah setengah hidupnya untuknya, jadikanlah mereka bagian kehidupan yang berarti bagi banyak orang.

Dimana yang setengah lagi? Jawabnya terletak pada ajaran lain: jika seseorang mati, hanya ada tiga hal yang bermanfaat baginya di akhirat; anak yang shalih, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang pernah diberikannya. Sebuah ajaran yang juga sudah ditemukan oleh ilmu pengetahuan saat ini: kualitas kepemimpinan seseorang hanya bisa dilihat setelah orang itu meninggalkan pengikutnya. Bukanlah seorang pemimpin yang sukses jika pengikutnya terus bergantung pada kemampuannya dan tidak pernah mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Agak ketinggalan zaman, aku baru saja membaca Angel & Demon-nya Dan Brown. Novel pertamanya yang baru ketahuan bagus setelah kehebohan yang dimunculkan ‘adik’-nya si The Da Vinci Code ini ternyata juga luar biasa jenius. Diceritakan bahwa Robert Langdon, sang ahli simbologi yang juga menjadi tokoh utama dalam Da Vinci menerima permintaan untuk mengungkap pembunuhan seorang fisikawan terkenal. Penyelidikannya membawa pada sebuah kelompok Illuminati, kelompok yang telah berusia ratusan tahun, diisi oleh para jenius pecinta ilmu pengetahuan namun dibenci oleh kalangan gereja karena penemuan mereka banyak menjatuhkan doktrin-doktrin yang diajarkan oleh gereja. Penelitian Langdon sekian tahun mengatakan kelompok ini sudah lama punah, namun fakta-fakta yang muncul mengiringi penyelidikannya terhadap pembunuhan sang fisikawan mengatakan sebaliknya. Illuminati masih hidup, bahkan lebih kuat, terselubung, dan memiliki jaringan luar biasa sampai pada level kepala negara.

Petualangan seru pun berlanjut, diiringi dengan sekian banyak pembunuhan terhadap kandidat Paus. Hasil akhirnya, pelayan setia Paus yang baru meninggal, merekayasa semua kejadian tersebut. Mengapa ia melakukannya? Amat unik, ia sama sekali tidak menginginkan kekuasaan. Ia hanyalah seorang pelayan yang taat dan ingin mengembalikan wibawa gereja. Ia tidak rela jika ilmu pengetahuan membuat agama menjadi tidak berarti dengan membuat semua ayatnya logis dan dapat dijangkau oleh nalar. Untuk itulah, ia bangkitkan kembali kelompok yang sudah ratusan tahun dianggap bubar itu dan membangkitkan rasa takut pada orang banyak. “Lihat, ribuan orang berkumpul di sana, duduk bersama dan berdoa,” demikian salah satu kalimat yang diluncurkan oleh sang pelayan ketika perbuatannya terungkap.

Terlepas dari segala kontroversi sang penulis, aku menangkap sesuatu yang menarik dari rencana sang pelayan Paus. Ia menciptakan rasa takut dalam hati banyak orang, agar mereka ingat dan bersatu. Menarik, sebab metode ini memang salah satu yang dianggap oleh orang banyak sebagai metode ampuh untuk memunculkan persatuan. Mulai dari Soeharto yang menciptakan PKI, Amerika menciptakan Al Qaida, sampai kalangan terpelajar (baca: mahasiswa) menciptakan OPSPEK (perploncoan), semua mengangkat tema yang sama: dalam keadaan terdesak orang akan bersatu. Benarkah demikian?

Aku pernah menganggapnya benar. Ketika SMA, aku pernah menjadi bagian dari pelatihan kepemimpinan OSIS yang menggunakan fear management seperti ini. Hanya saja, belakangan aku pelajari pengalaman itu, ada satu hal yang rupanya lupa untuk dikaji oleh mereka yang menerapkan metode ini: kualitas kesatuan yang diciptakan.

Benar bahwa ketika kita kepepet, akan ada shortcut yang membuat banyak informasi dalam otak mencari segala kemungkinan pemecahan dengan lebih cepat. Bahkan, situasi kepepet ini mampu membuat seseorang mampu memanjat sebuah tembok tinggi ketika sedang dikejar anjing. Masalahnya, keadaan mendesak hanya akan menggunakan informasi yang sudah tersedia dalam otak kita, termasuk potensi fisik yang kuat. Jadilah pola pikir primitif ini sama sekali tidak dapat bekerja untuk memunculkan hasil kreatif yang hanya bisa muncul ketika otak berada dalam kondisi relaks, yaitu ketika gelombang alfa-nya bekerja. Keputusan kreatif membutuhkan tidak saja informasi yang sudah ada tapi juga informasi yang belum didapat bahkan belum ada. Jelas, imajinasi dibutuhkan disini, sesuatu yang tidak akan muncul ketika seseorang sedang dikejar anjing. So, yakinlah sekelompok orang dapat survive dalam kondisi kritis yang mendesak, tapi di saat lain mereka tidak akan menghasilkan inovasi apapun dalam keadaan yang sama.

Sayangnya, metode inilah yang populer baik di kalangan praktisi maupun akademisi. Sebuah PR besar menanti: menjadikan pola pikir kreatif ini minimal sejajar dengan pola pikir primitif. Pilihan pun muncul, menjadi bangsa survival atau inovator? Aku yakin kita menginginkan keduanya, survanovator. Tangguh saat keadaan mendesak, cerdas saat keadaan berubah. Hanya, saat ini memang masih pincang sebelah.

Bakso Bang Eric

November 28, 2006

Jum’at malam. Aku mampir ke Gramedia Matraman sepulang kantor. Kondisi perut belum terisi, aku pun teringat ada penjual bakso yang cukup enak di toko buku itu: “Bakso Bang Eric”. “Bakso 2, pakai mihun, yang satu pakai bakso telur yang satu lagi biasa ya Bang,” ucapku memesan seperti biasa. Tidak sampai 5 menit, pesananku pun diantar dan air liurku tak tertahankan ketika aku mendahuluinya dengan ritual mencampurkan saus, kecap, dan sambal. Seolah tak sabar bekerja, perut pun menggeliat meminta ritual itu segera kusudahi saja. Aku menurut, kemudian memulainya dengan menyantap mi terlebih dulu. Persis seperti gaya makan ayahku, save the best for last. Bakso yang nikmat itu selalu kujadikan penutup sehingga aku bisa mengingat rasanya sampai paling tidak beberapa jam kemudian.

Sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba seseorang berseru, “Ada Kamtib! Ada Kamtib!” Para penjual pun panik, dan bergegas membereskan barang dagangannya. Sedikit beruntung bagi Bang Eric, ia memiliki cukup banyak tim untuk bergerak cepat memindahkan segala sesuatunya ke pelataran sebuah gedung di belakang tempatnya berjualan. Cukup berat bagi ibu penjual soto di sebelahnya, sendirian ia harus berkemas sebelum kehilangan gerobak satu-satunya penopang penghidupannya itu. Aku sedikit panik, namun segera reda melihat beberapa pembeli yang juga tenang. “Toh, kita kan pembeli. Masak mau ditangkap juga,” pikirku. Namun melihat kondisi yang kacau, diselingi dengan bunyi beberapa piring dan mangkok yang pecah terjatuh karena terburu-buru, mangkuk bakso pun kubawa ke tempat mereka mengungsi sementara.

Sembari duduk menghabiskan baksoku yang sudah berkurang kenikmatannya, pandanganku tertuju pada para pedagang itu. Sebuah pertanyaan mencuat dalam benakku: seberapa seringkah mereka mengalami hal seperti ini? Terkenang peristiwa tahun 1998 lalu, cukup banyak isu mengenai akan adanya penyerangan pada suatu tempat namun tidak pernah terbukti. Bukan tidak mungkin hal seperti itu pun terjadi pada para pedagang ini. Mereka yang sehari-harinya berada dalam ketidakpastian akan datangnya pelanggan, pelanggan yang menurun drastis akibat hujan deras, isu bakso tikus dan formalin, sampai resiko setiap saat digrebek Kamtib, tampak begitu rapuh di hadapanku. Sejenak kepalaku tertunduk menatap potongan bakso terakhir, dan suatu perasaan haru muncul dalam hati: duhai bakso nikmat di hadapanku, seberat ini kah perjuanganmu hanya untuk sesaat menghadirkan kekenyalan dalam mulutku?

Pikiranku pun melayang mulai dari warung pinggir jalan tempat aku membeli teh botol saat kehausan sampai ke penjual somay langgananku. Betapa setiap tetes yang menghilangkan dahagaku dan setiap suap yang melenyapkan laparku berisi tetesan keringat orang-orang yang berlarian menjajakannya. Bahkan para produsen barang jajaan mereka pun barangkali tidak pernah menyadari bahwa pundi-pundi mereka bisa terisi penuh karena sandal jepit butut itu mondar mandir kesana kemari demi menyambung hidup mereka.

Menghela napas, suapan terakhir pun masuk dan kukunyah penuh kenikmatan. Tegukan teh botol terakhir menuntaskannya tak lama setelah itu. Kuambil selembar uang dan kuberikan pada salah seorang dari mereka sembari mengembalikan mangkuk. “Bakso 2, teh botol 2,” jelasku. Kutinggalkan ia ketika secara tergesa ia berusaha merogoh kantung untuk mengambil uang kembalian.

Terima kasih Bang Eric…

Pemimpin Indonesia

November 15, 2006

Beberapa hari belakangan aku ‘terpaksa’ naik mobil ke kantor setiap hari–sebuah kebiasaan yang setahun ini berusaha aku minimalisasi demi meningkatkan frekuensi membaca (sehingga aku lebih memilih naik bis) dan tentunya efisiensi dari segi pengeluaran. Melewati Mampang menuju Warung Buncit orang-orang tentu sudah tidak heran dengan apa yang akan mereka lihat: sebuah proyek pembangunan busway yang menimbulkan macet plus resiko lecet bagi mereka yang kurang hati-hati dalam berkendara, sebab pengerjaannya yang agak ceroboh meninggalkan begitu saja pembongkaran jalan tanpa perlindungan yang berarti.

Hanya saja, satu pagi mataku terarah pada pemandangan yang merenyuhkan. Berangkat agak lebih awal waktu itu, jalanan yang sepi masih menjadi tempat yang nyaman bagi beberapa orang pekerja proyek untuk berbaring meringkuk di atas triplek dengan ditutupi sarung di area pengerjaan jalan. “Mereka tidur di tengah jalan?!” tanyaku tersentak. Ya. Tidak tampak adanya barak yang lazim dibangun setiap ada proyek besar di sekitar situ, dan disanalah mereka beristirahat setiap malam. Entah dimana mereka makan, entah dimana pula mereka berteduh dan beristirahat siang. Mereka yang selalu kulihat sekuat tenaga memukulkan palu dan mengangkat macam ragam alat berat rupanya tidak pernah disediakan ‘rumah’ yang layak untuk sekedar men-charge tenaga. Jalanan Jakarta menjadi rumah mereka, sebagaimana juga banyak orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dalam kemacetan. Bedanya, yang satu nyaman dalam mobil ber-AC, yang lain ditiupi Angin Cemilir plus debu dan asap knalpot.

Aku pun teringat pernah cukup sering mendengar mantan pemimpin negeri ini ada yang disebut sebagai Bapak Pembangunan, karena dianggap berjasa (atau menganggap dirinya berjasa?) membangun banyak hal (baca: gedung bertingkat dan jalan-jalan utama). Sebuah pertanyaan pun muncul: benarkah pemimpin negeri ini adalah Bapak Pembangunan? Dengan lantang suara dari dalam hatiku pun menjawab: TIDAK!

Bukannya sok peduli pada rakyat kecil (sebab aku pun juga rakyat kecil), tapi bagiku kepemimpinan amat berbeda dengan keselebritisan. Benarkah Soekarno pemimpin? Ya, jawab beberapa orang yang berpandangan bahwa ia lah yang memiliki visi Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Pertanyaannya: apa yang terjadi jika tidak ada sekumpulan rakyat kecil yang dengan keluguan namun dengan ketulusan yang mendalam memberikan dukungan atas perjuangannya? Aku tidak yakin nama Soekarno akan pernah didengar oleh dunia. Benarkah Soeharto pemimpin? Ya, jika selama ini kita melihatnya sebagai orang yang sempat menorehkan sejarah dengan menjadikan perekonomian Indonesia ‘tampak’ cukup kuat plus bumbu nepotisme yang kental. Pertanyaannya: apa yang terjadi jika pada masa itu tidak ada seorang pun yang mau disuap dan diajak bekerja bersamanya untuk kemudian memilih jalannya masing-masing secara jujur dan lurus? Aku juga tidak yakin wajah presiden yang membanggakan dirinya sebagai anak petani itu (namun tidak berjiwa petani) akan pernah digambar di selembar uang terbitan BI dengan judul Bapak Pembangunan Indonesia. Melompat lebih sempit ke Jakarta, benarkah Sutiyoso pemimpin? Ya, jika kita hanya menikmati busway yang telah sekian lama mengitari koridor beberapa koridor. Pertanyaannya: apa yang terjadi, jika para pekerja yang tidur di tengah jalan Warung Buncit itu memperlambat kerjanya 1 jam sehari saja? Pekerjaan akan molor, protes akan semakin kencang, dan bukan tidak mungkin ia akan didemo turun jabatan sebelum waktunya. Masuk akal, mengingat prestasinya dalam menangani banjir dan kemacetan selama ini.

So, siapa sebenarnya yang jadi pemimpin disini? Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab bagiku. Kepemimpinan sejatinya berbeda dengan keselebritisan, meski keduanya seringkali berada pada satu individu yang sama. Masalahnya, yang dibutuhkan bangsa ini hanyalah kepemimpinan sejati, tok til, tanpa embel-embel yang lain. Sebuah kesadaran yang amat mendalam tentang potensi yang diberikan oleh Tuhan, sehingga ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya teraktualisasi. Seorang pekerja proyek adalah pemimpin, ketika ia bekerja dengan seluruh kemampuannya secara total disertai keikhlasan dari dalam lubuk hati terdalam. Sebaliknya, seorang presiden sekalipun, hanyalah follower setia dari hawa nafsu kekuasaannya ketika ia membuat banyak keputusan semata-mata hanya untuk mencari keuntungan pribadi.

Well, kepemimpinan sebenarnya bukanlah hal yang terlalu muluk. Cukup pahami apa yang bisa kita perbuat, dan segera jalankan secara konsisten. Hmm…mau jadi pemimpin sekarang?

Hari Kemenangan?

October 30, 2006

Libur lebaran seminggu kemarin menyisakan tawa dan cemas sekaligus padaku. Tawa, sebab selayaknya sebuah perayaan hari besar, lebaran memang penuh dengan canda tawa dan keramaian. Keluargaku lengkap berkumpul tepat sehari sebelum lebaran, berkeliling silaturahim hingga hari ketiga, menikmati Jakarta yang cukup lengang (kecuali setelah shalat Id yang memang macet luar biasa). Pokoknya, tidak satu pun jalan yang kulewati lepas dari gema hari yang sering disebut hari kemenangan itu. Nah, disinilah rasa cemasku muncul: benarkah hari itu adalah hari kemenangan?

Aku pun teringat sebuah riwayat ketika Rasulullah mensabdakan, “Kita baru saja kembali dari peperangan kecil dan akan masuk ke dalam peperangan yang lebih besar.” Sebuah sabda yang diucapkan tak lama setelah menang di sebuah peperangan menjelang bulan Ramadhan ini cukup mengagetkan sahabat yang mendengarnya ketika itu. Perang fisik disebut sebagai peperangan kecil, karena ia jauh lebih terlihat dan kasat mata, sehingga kita bisa mengatur strategi yang jitu untuk menaklukkannya. Sementara perang terhadap dorongan dari diri sendiri menjadi peperangan besar, sebab rasa cinta diri yang abstrak jelas tidak mudah untuk dikendalikan begitu saja. Inilah barangkali yang menjadi alasan mengapa banyak orang menganggap Idul Fitri sebagai hari kemenangan.

Menilik ke dalam diri sendiri, sebuah pertanyaan sinis menyentil telingaku: benarkah aku sudah menang? Mengingat masih ada detik-detik Ramadhan yang belum diisi ibadah yang khusyuk, mengingat perkataanku yang masih menyakitkan kepada seorang kawan, mengingat keenggananku untuk menyeberangkan seorang nenek yang kulihat di pinggir jalan, mengingat semangatku yang justru muncul ketika berangkat untuk membeli baju baru, mengingat berat badanku yang segera naik setelah lebaran, label kemenangan tampaknya masih cukup jauh untuk diraih.

Untunglah, aku termasuk yang selalu meyakini bahwa setiap ritual ibadah adalah metode training dari Tuhan. Selayaknya sebuah pelatihan, ia memang tidak akan menjadikan pesertanya berubah seketika selesai mengikuti semua sesinya. Butuh transfer of training untuk menjadikan keterampilan yang dipelajari agar merefleks dalam perilaku sehari-hari. Demikianlah aku ingin menjadikan 11 bulan mendatang sebagai ajang penggemblengan sekaligus aktualisasi diri yang sesungguhnya.

Ya, sebab hari kemenangan hanya untuk mereka yang mampu mentransformasikan keshalihan spiritualnya menjadi keshalihan sosial yang mumpuni.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqabbalallahu minni wa minkum.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.